Pasar Persaingan Sempurna Dan Pasar Monopoli


BAB I
PENDAHULUAN

      1. 1.      Latar Belakang
Dalam pasar persaingan sempurna memiliki kekuatan permintaan dan penerimaan yang dapat bergerak secar leluasa. Ada pun harga yang terbentuk benar-benar mencerminkan keinginan produsen dan konsumen. Permintaan mencerminkan keinginan konsumen, sementara penawaran mencerminkan keinginan produsen atau penjual. Bentuk pasar persaingan murni terdapat terutama dalam bidang produksi dan perdagangan hasil-hasil pertanian seperti beras, terigu, kopra, dan minyak kelapa. Bentuk pasar ini terdapat pula perdagangan kecil dan penyelenggaraan jasa-jasa yang tidak memerlukan keahlian istimewa  (pertukangan, kerajinan). Dalam persaingan sempurna ini pembeli dan penjual berjumlah banyak. Artinya, jumlah pembeli dan jumlah penjual sedemikian besarnya, sehingga masing-masing pembeli dan penjual tidak mampu mempengaruhi harga pasar. Dengan demikian masing-masing pembeli dan penjual telah menerima tingkat harga yang terbentuk di pasar sebagai suatu datum atau fakta yang tidak dapat di ubah. Bagi pembeli, barang atau jasa yang ia beli merupakan bagian kecil dari keseluruhan jumlah pembelian masyarakat. Bagi penjual pun berlaku hal yang sama sehingga bila penjual menurunkan harga, ia Akan rugi sendiri, sedangkan bila menaikan harga. Maka pembeli akan lari penjual lainnya
Pasar sebagai kumpulan jumlah pembeli dan penjual individual mempunyai karakteristik-karakteristik tertentu. Karakteristik tersebut muncul karena masing-masing individu pembeli dan penjual mempunyai  perilaku individual yang berbeda pula. Di dalam biaya produksi terdapat karakteristik pasar tertentu dimana dalam pasar tersebut hanya terdapat satu penjual dari satu produk (barang atau jasa) yang tidak mempunyai alternatif produk pengganti (substitusi). Pasar dengan karakteristik tersebut disebut dengan pasar monopoli. Mengingat dalam pasar monopoli hanya terdapat satu penjual dari satu produk (barang atau jasa) yang tidak mempunyai alternatif produk pengganti (subtitusi) maka dalam pasar monopoli tidak ada persaingan dari penjual lain. Dalam kehidupan perekonomian yang faktual, sangat jarang mendapat  penjual yang tidak menghadapi persaingan dari penjual lain. Meskipun dalam suatu pasar misalnya hanya terdapat satu penjual sehingga tidak ada persaingan secara langsung dari penjual lain, tetapi penjual tunggal tersebut akan menghadapi  persaingan secara tidak langsung dari penjual lain yang menghasilkan produk yang dapat merupakan alternatif produk pengganti yang tidak sempurna.
      1.2.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis dapat membuat rumusan masalah sebagai berikut:
1.2.1.      Bagaimana pasar persaingan sempurna berkembang dikalangan masyarakat?
1.2.2.      Mengapa pasar monopoli terbentuk?


BAB II
PEMBAHASAN

      2.1.      PASAR PERSAINGAN SEMPURNA

                        2.1.1.   Karakteristik Pasar Persaingan Sempurna
Dalam pasar persaingan sempurna, jumlah perusahaan sangat banyak dan kemampuan setiap perusahaan dianggap sedemikian kecilnya, sehingga tidak mampu memengaruhi pasar. Tetapi hal itu belum lengkap, masih diperlukan beberapa karakteristik (syarat) agar sebuah pasar dapat dikatakan persaingan sempurna

a.       HomogenitasProduk (Homogeneous Product)
Semua perusahaan memproduksi produk yang homogen atau sejenis.Produktersebut mampumemberikan kepuasan (utilitas) kepada konsumen tanpa perlu mengetahui siapa produsennya.Konsumen tidak membeli merek barang tetapi kegunaan barang. Karena itu semua perusahaan dianggap mampu memproduksi barang dan jasa dengan kualitas dan karakteristik yang sama.
b.      PengetahuanSempurna (PerfectKnowledge)
Para pelaku ekonomi (konsumen danprodusen) memiliki pengetahuan sempurna tentang harga produkdan inputyang dijual. Dengan demikian konsumen tidak akan mengalami perlakuan harga jual yang berbeda dari satu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Demikian halnya dengan perusahaan, hanya akan menghadapi satu harga yang sama dari berbagai pemilik faktor produksi.
c.       OutputPerusahaan RelatifKecil(SmallRelativelOutput)
Perusahaan dalamindustri (pasar) dianggap berproduksi efisien (biaya rata-rata terendah), baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang.Kendati pun demikian jumlah outputsetiap perusahaan secara individu dianggap relatif kecil dibanding jumlah output seluruh perusahaan dalam industri.
d.      PerusahaanMenerima Harga YangDitentukan Pasar(Price Taker)

Perusahaan menjual produknya dengan berpatokan pada harga yang ditetapkan pasar (price taker). Karena secara indivi duperusahaan tidak mampu mempengaruhi harga pasar. Yang dapat dilakukan perusahaan adalah menyesuaikan jumlah output untuk mencapai laba maksimum.

e.       Keleluasaan Masuk -­KeluarPasar (FreeEntryandExit)

Dalampasarpersaingan sempurna faktorproduksi mobilitasnya tidak terbatasdan tidakada biaya yang harus dikelurkanuntuk memindahkan faktor produksi.Pengertian mobilitas mencakup pengertian geografis dan antarpekerjaan. Maksudnya, fakor produksi seperti tenaga kerja mudah dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya atau dari satu pekerjaan lain ke pekerjaan lainnya, tanpa biaya.Hal tersebut menyebabkan perusahaan leluasa untuk masuk keluar pasar.Jika perusahaan tertarik di satu industri, dengan segera dapat masuk.Bila tidak tertarik lagi atau gagal, dengan segera dapat keluar. 
Dalam dunia nyata tidak ada bentuk pasar berstruktur pasar persaingan sempurna, dimana perusahaan-perusahaan kecil yang menghasilkan barang homogen dan memenuhi semua karakteristik sebagaimana diuraikan di atas. Namun demikian, menilik karakteristiknya, ada beberapa industri yang mendekati bentuk pasar persaingan sempurna, seperti industri tempe, tahu, kerupuk putih, dan jasa fotokopi.
 
Koperasi Perajin Tahu Tempe Curhat Sudah 14 Tahun Terpuruk
Wiji Nurhayat – detikfinance

Jakarta -Gabungan Koperasi Tahu-Tempe Indonesia (Gakoptindo) mengadu berbagai masalah yang membelit Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (KOPTI). Masalah harga kedelai yang terus fluktuatif jadi persoalan para perajin tahu tempe.
Menurut Ketua Umum Gakoptindo Ayip Syarifudin, anggotanya sudah terpuruk karena selama 14 tahun terakhir masalah harga kedelai tak pernah terselesaikan.
"Kami percaya jeritan hati kami selama 14 tahun seperti ini. Saya berharap Inpres (intruksi presiden soal Harga Pembelian Pemerintah) kedelai keluar dan akan merubah nasib kita tidak terpuruk seperti ini," katanya dalam acara Revitalisasi Tata Niaga Menuju Swasembada Kedelai di Gedung Nusantara II DPR Jakarta, Rabu (23/1/2013).

Manurut Ayip saat ini terdapat 177 KOPTI yang tersebar di 18 provinsi dengan jumlah perajin tahu tempe sebanyak 115.000 usaha dan jumlah tenaga kerja 1 juta orang. Untuk kebutuhan kedelai, jumlah kebutuhan bahan baku perajin tahu tempe sebanyak 132.000 ton/bulan. Ayip hanya menyarankan agar harga kedelai stabil dalam rentan 1-3 bulan.

"Kami mengharapkan harga kedelai stabil 1-3 bulan dan kita dapat menghitung biaya produksi," imbuhnya.
Ia menuturkan para KOPTI mendukung pemerintah untuk mencapai swasembada kedelai 2014. Seperti diketauhi pemerintah merencanakan swasembada kedelai tahun 2014 dengan produksi 2,7 juta ton. Ditargetkan laju peningkatan produksi 1,5 ton/hektar dari sebelumnya 1,3 ton/hektar maka pada tahun 2014 surplus 137.000 ton.

"KOPTI mendukung pemerintah untuk swasembada kedelai namun tidak terlaksana tanpa ada tata niaga. Tentukan HPP untuk petani berapa dan perajin berapa sehingga duanya mendapatkan keuntungan. Bulog perlu bekerja sama dengan para importir sehingga masukan ini membuat satu pola kerjasama yang saling menguntungkan," tandasnya.
Pembahasan
Dari contoh kasus di atas, produsen tahu tempe mendekati karakteristik pasar persaingan sempurna yaitu, terdiri dari banyak penjual dan banyak pembeli, bahkan penjual tergabung dalam Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo). Setiap perusahaan mudah keluar atau masuk pasar. Contohnya, pedagang dapat memutuskan untuk berhenti berjualan sampai kondisi pasar benar-benar stabil. Menghasilkan barang serupa (homogeneous product), karena tidak ada perbedaan yang terlalu nampak. Terdapat banyak perusahaan di pasar dalam hal ini produsen tahu tempe. Produsen menjual produknya dengan berpatokan pada harga yang ditetapkan pasar (price taker). Karena secara individu perusahaan tidak mampu mempengaruhi harga pasar Pembeli mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai pasar. Dalam kasus ini pembeli sudah mengetahui terjadinya kenaikan harga kedelai melalui informasi dari media dan meningkatnya harga tahu dan tempe. Sehingga, mereka cenderung mengurangi konsumsi tahu dan tempe dan kurangnya permintaan pasar. Menyebabkan keuntungan yang diperoleh oleh penjual menjadi berkurang dan pendapatan mereka relatif sama.

                        2.1.2.   Permintaan dan Penerimaan dalam pasar persaingan sempurna

a.       Permintaan
tingkat harga dalam pasar persaingan sempurna ditentukan oleh permintaan dan penawaran. Misalkan kita berbicara tentang  pasar pakaian anak-anak, maka harga pakaian anak-anak ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran pakaian anak-anak, seperti digambarkan dalam diagram 8.1.a. perusahaan secara individu harus menerima harga tersebut sebagai harga jual. Karena jumlah output perusahaan relatif sangat kecil  dibanding output pasar, maka berapapun ang dijual diperusahaan relatif  tidak berubah. Karena itu kurva permintaan yang dihadapi perusahaan secara individu berbentuk garis lurus horizontal.
b.      penerimaan
penerimaan total (total revenue) perusahaan sama dengan jumlah output (Q) dikali harga jual (P). karena harga telah ditetapkan, penerimaan rata-rata (average revenue) dan penerimaan marginal (marginal revenue) adalah sama dengan harga. Dengan demikian kurva permintaan (D) sama dengan kurva penerimaan rata-rata (AR) sama dengan kurva penerimaan marginal (MR) dan sama dengan harga (P), seperti pada diagram 8.2.a kurva penerimaan total berbentuk garis lurus dengan sudut kemiringan positif, bergerak mulai dari titik (0,0), seperti ditunjukkan oleh diagram 8.2.b

                        2.1.3.   Keseimbangan Perusahaan Dalam Jangka Pendek
Ada dua syarat yang Harus dipenuhi agar perusahaan berada dalam keseimbangan:
a.       Perusahaan sebaiknya berproduksi, paling tidak, bila biaya variable (VC) adalah sama dengan penerimaan total (TR),atau biaya variabel rata-rata (AVC) sama dengan harga (P).dalam kondisi ini perusahaan hanya menanggung kerugian biaya tetap (FC),dimana biaya ini dengan atau tampa produksi tetap harus di keluarkan. Tetapi jika AVC lebih kecil dari harga maka perusahaan tidak mampu menutupi lagi biaya tetap. Kegiatan produksi hanya menambahkan beban,karena itu produksi sebaiknya di hentikan
b.      Perusahaan memproduksi benda pada saat penerimaan marginal sama dengan biaya marginal (MR=MC) agar perusahaan memperoleh laba maksimal atau,dalam kondisi buruk,kerugian minimum(minumum loss)

                        2.1.4.   Keseimbangan Perusahaan Dalam Jangka Panjang
Agar dapat bertahan dalam pasar, maka dalam angka panjang perusahaan harus memenuhi empat persyaratan:
a.       Perusahaan harrus bekerja sebaik mungkin, agar perusahaan mencapai keadaan yang optimal. Secara matematis hal ini berarti perusahaan berproduksi sampai saat penerimaan marjinal sama dengan biaya marjjinal. Pada saat itu biaya marjinal jangka pendek sama dengan biaya marjinal jangka panjang (SMC = LMC)
b.      Tidak mengalami kerugian, agar dapat mengganti barang modal yang digunakan dalam produksi. Karena itu biaya rata-rata jangka pendek harus sama dengan harga jual (SAC = P)
c.       Tidak ada insentif bagi perusahaan untuk masuk keluar, karena laba nol (zero economic profit). Laba nol disebut juga laba normal (normal profit), yaitu tingkat laba yang memberikan tingkat pengembalian yang sama, jika uang dan faktor produksi yang lain dialokasikan pada kegiatan alternatif. Jika laba lebih besar dari nol akan ada perusahaan yang tertarik untuk masuk (entry) kedalam pasar. Sebaliknya jika laba lebih kecil dari nol (merugi) akan mendorong perusahaan keluar dari pasar (adanya karakteristik free entry and exit).
d.      Perusahaan tidak dapat menambah laba lagi, walaupun dengan memperbesar skala produksi, karena sudah berproduksi pada titik minimum kurva biaya rata-rata jangka panjang (minimum LAC) pada saat biaya rata-rata jangka pendek sama dengan biaya rata-rata jangka panjang.

                        2.1.5.   Penawaran Perusahaan Dalam Pasar Persaingan Sempurna
Penawaran industri adalah total penawaran perusahaan-perusahaan. Jumlah output yang ditawarkan perusahaan adalah jumlah yang menghasilkan laba maksimum (MR=MC). Berdasarkan hal tersebut dapat dikonstruksi kurva peenawaran perusahaan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
a.       Kurva Penawaran Jangka Pendek
Kurva penawarn jangka pendek perusahaan dapat dikonstruksi dari kurva biaya marjinal (MC) jangka pendek. Dalam pasar persaingan sempurna meskipun perusahaan menderita rugi, Selama harga (P) masih diatas biaya variable rata-rata (AVC), sebaiknya perusahaan tetap berproduksi karena kerugian yang diderita masih lebih kecil dari biaya tetap (FC) yang harus dikeluarkan apabila perusahaan tidak berproduksi.  Kalau berproduksi, berarti sebagian dari FC dapat tertutup. Namun, bila P dibawah AVC, maka sebaiknya perusahaan tidak berproduksi, karena  kalau tetap berproduksi kerugian lebih besar dari FC.
b.      Kurva Penawaran Jangka Panjang
Dalam pasar persaingan sempurna, kurva penawaran jangka panjang merupakan lokus keseimbangan jangka panjang pada berbagai tingkat produksi.
1)      Industri Skala Biaya Konstan (Constant Cast Industry)
Penambahan penggunaan  factor produksikarena masuknya perusahaan baru,tidakakan menaikkanharga factorproduksi Diagram8.8.a.Diagram 8.8.b Bila permintaan pasar meningkat (kurvapermintaan D1 bergeserke D2), harga output meningkatkeP2
2)      Industri Skala Biaya Menaik (Increasing Cost Industry)
Masuknya perusahaan –perusahaan barumenyebabkan harga factor produksi naik, sehingga terjadi perubahan stuktur biaya dan pergeseran titikkeseimbangan. Diagram 8.9.a Strukturbiaya sebelummasuknya perusahaan lain. Diagram 8.9.bStrukturbiaya setelah masuknya perusahaan lain.                           Diagram 8.9.c Menunjukkan peningkatanpermintaan (D1– D2).
3)      Industri Skala Biaya Menurun (Descreasing Cost Industry)
Masuknya perusahaan – perusahaan lain ke dalamindistrijustru menurunkan hargafactor produksi karenaefisiensi skalabesar (large scale economies). Akibatnya strukturbiayajadilebih murah (Diagram8.10.akeDiagram 8.10.b). Diagram8.10.c Meningkatnya permintaan(D1—D2)menaikkan harga jual ke P2 yang mengundang masuknya perusahaan lain.

                        2.1.6.   Kekuatan dan Kelemahan Pasar Persaingan Sempurna
a.      Kekuatan
Sebagai sebuah model ekonomi, pasar persaingan sempurna memberikan penjelasan tentang prilaku perusahaan dalam dunia idela, di mana dibuktikan bahwa perusahaan berproduksi dalam skala yang efisien dengan harga produksi yang paling murah. Pasar persaingan sempurna juga memungkinkan output yang maksimum disbanding pasar lainnya.
Konsekuensinya model pasar persaingan sempurna bagi masyarakat adalah pasar ini memberikan tingkat kemakmuran dan kenikmatan yang maksimal, karena:
1)      Harga jual barang dan jasa adalah yang termurah
2)      Jumlah output paling banyak sehingga rasio output per penduduk maksimal (kemakmuran maksimal)
3)      Masyarakat merasa nyaman dalam mengonsumsi karena tidak perlu membuang waktu untuk memilih barang dan jasa (produk yang homogen) dan tidak ditipu dalam kualitas dan harga (informasi sempurna)

b.      Kelemahan
Namun demikian, model pasar persaingan sempurna memiliki beberapa kelemahan:
1)      Kelemahan Dalam Hal Asumsi
Asumsi-asumsi yang dipakai dalam pasar persaingan sempurna mustahil terwujud, karena dalam dunia nyata manusia (produsen dan konsumen) dibatasi  oleh dimensi waktu dan tempat. Keterbatasan itu menyebabkan perpindahan faktor produksi dan pengumpulan informasi membutuhkan biaya.Hasil (outputdan informasi) yang diperoleh pun tidak homogen dan sempurna.
2)      Kelemahan Dalam Pengembangan Teknologi
Model pasar persaingan sempurna menyatakan bahwa keseimbangan dalam jangka panjang akan tercapai dan setiap perusahaan memperoleh laba normal. Masalahnya apakah dengan laba normal perusahaan dapat melakukan kegiatan riset dan pengembangan (research and development).Padahal kegiatan riset dan pengembangan amat dibutuhkan untuk memperoleh teknologi produksi yang meningkatkan efisiensi produksi.
3)      Konflik Efisiensi - Keadilan
Pasar persaingan sempurna sangat menekankan efisiensi.Tetapi hal ini menimbulkan masalah jika diterapkan dalam kehidupan nyata.Misalnya kasus industrialisasi di negara sedang berkembang (NSB).Karena industrinya masih amat muda dalam tahap awal perkembangan (Infant industry), biaya produksi (biaya rata-rata) jelas lebih tinggi daripada industri di negara maju. Jika dibiarkan bersaingan dalam pasar global, industry di NSB akan ambruk karena kalah bersaing. Kemakmuran dan kesejahtraan di NSB tidak akan meninkat disbanding di negara maju. Muncul masalah ketidakadilan.Agar tidak kalah bersaing, industry di NSB butuh perlindungan (protection) sementara. Tetapi hal ini akan menimbulkan masalah inefisiensi.
      2.2.      PASAR MONOPOLI

                           2.2.1.   Faktor-faktor Penyebab Terbentuknya Monopoli
Perusahaan tidak memiliki pesaing karena adanya hambatan bagi perusahaan lain untuk memasuki industri yang bersangkutan. Dilihat dari penyebabnya, hambatan masuk dikelompokkan menjadi hambatan teknis dan hambatan legalitas.
a.       Hambatan Teknis (Technical Barriers to Entry)
1)       Perusahaan memiliki kemampuan dan atau pengetahuan khusus (special knowledge) yang memungkinkan berproduksi sangat efisien.
2)      Tingginya tingkat efisiensi memungkinkan perusahaan monopolis mempunyai kurva biaya (MC dan AC) yang menurun. Makin besar skala produski, biaya marjinal makin menurun, sehingga biaya produksi per unit (AC) makin rendah (decreasing MC and AC).
3)      Perusahaan memiliki kemampuan kontrol sumber faktor produksi, baik berupa sumberdaya alam, sumberdaya manusia maupun lokasi produksi.
Perusahaan-perusahaan yang mempunyai daya monoplis karena kemampuan teknis disebut perusahaan monopolis alamiah (natural monopolist).
b.      HambatanLegalitas (Legal Barriers to Entry)
1)      Undang-UndangdanHakKhusus
Tidak semua perusahaan mempunyai daya monopoli karena kemampuan teknis. Dalam kehidupan sehari-hari kita menemukan perusahaan-perusahaan yang t idak efisien tetapi memiliki daya monopoli. Hal itu dimungkinkan karena secara hukum mereka diberihak monopoli (legal monopoly). Di Indonesia, Badan-Badan  Usaha Milik Negara (BUMN-BUMN) banyak yang memiliki daya monopoli karena undang-undang. Berdasarkan undang-undang tersebut mereka memiliki hak khusus (special franchise) untuk mengelola industri tertentu.
      Hak khusus tidak hanya diberikan oleh pemerintah, tetapi juga oleh satu perusahaan kepada perusahaan lainnya. Di Indonesia beberapa bentuk konkritnya adalah agen tunggal, importer tunggal, lisensi dan bisnis waralaba.
2)      Hak Paten (Patent Right) atau Hak Cipta
Tidak semua monopoli berdasarkan hukum mengakibatkan inefisiensi.Hak paten atau hak cipta adalah monopoli berdasarkan hukum karena pengetahuan-kemampuan khusus(special knowledge) yang menciptakan daya monopoli secara teknik.
Dengan cara berpikir  yang sama kita memahami mengapa tidak semua rumah makan boleh menjual ayam goreng Kentucky Fried Chicken juga mengapa tidak semua pabrik garmen boleh memproduksi baju bermerek dagang Choya.

                           2.2.2.   Permintaan dan Penerimaan Perusahaan Monopoli

a.       Permintaan
Dalam pasar monopoli, permintaan terhadap output perusahaan (firm’s demand) merupakan permintaan industri. Karena itu perusahaan mempunyai kemampuan untuk memengaruhi harga pasar dengan mengatur jumlah output. Posisi perusahaan monopolis adalah penentu harga (price setter atauprice maker).
b.      Penerimaan Total danPenerimaanMarjinal
Pada pasar persaingan sempurna penerimaan marjinal perusahaan sama dengan harga jual (MR = AR = D = P). Tidak demikian halnya dengan perusahaan yang berada dalam pasar monopoli. Penerimaan marjinal perusahaan monopoli lebih kecil dari harga jual (MR < P). Untuk meningkatkan output yang dijual perusahaan harus menurunkan harga jual. Penurunan harga jual menyebab kan penerimaan total berkurang sebanyak luas. Daerah segiempat A. Penambahan jumlah output menambah TR seluas daerah segiempat B. Dengan demikian MR= -A + B yang nilainya lebih kecil dari harga. Penjelasan yang sama dapat diterapkan bila perusahaan bergerakke P3, P4 danseterusnya. Karena itu kurva MR berada dibawah kurva harga (permintaan).
Dalam pasar persaingan sempurna kurva TR berbentuk garis lurus dimulai darititik (0,0). Dalam pasar monopoli besarnya TR sangat bergantung pada besarnya elastisitas harga.
a.       Jika elastisitas harga lebih besar dari satu (elastis), untuk menambah output 1%, harga diturunkan lebih kecil dari 1%. Akibatnya TR naik yang berarti MR positif.
b.      Jika elastisitas harga sama dengan satu, untuk menambah output 1%, harga harus diturunkan 1% juga. TR tidak bertanbah, yang artinya MR=0 saat itu nilai TR maksimum.
c.       Jika elastisitas harga lebih kecil dari satu (inelastis), untuk menaikan output 1%, harga harus diturunkan lebih dari 1%. Akibatnya TR turun, yang artinya MR<0 (negatif)

                           2.2.3.   Keseimbangan Perusahaan Dalam Jangka Pendek
Sebagaimana halnya perusahaan yang bergerak dalam pasar persaingan sempurna, perusahaan monopoli juga harus menyamakan MR dengan MC agar mencapai laba maksimum.[1]

                           2.2.4.   Keseimbangan Perusahaan Dalam Jangka Panjang
Perusahaan monopoli tidak mempunyai masalah besar dengan keseimbangan jangka panjang, selama dalam jangka pendek memperoleh laba maksimum. Dalam pasar persaingan sempurna, laba super normal akan menarik perusahaan lain untuk masuk kedalam industri sehingga dalam jangka panjang perusahaan lain hanya menikmati laba super normal, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Perusahaan monopoli hanya akan kehilangan laba super normal jangka panjang,bila tidak mampu mempertahankan daya monopolinya. Hal tersebut dapat saja terjadi, terutama jika perusahaan lalai melakukan riset dan pengembangan untuk memperoleh teknologi yang meningkatkan efdesiensi produksi. Akibat posisi perusahaan tergantikan oleh perusahaan lain yang mampu menghasilkan atau menfaatka teknologi produksi yang lebih efisien.hal tersebut terjadi pada perusahaan-perusahaan jam tangan dinegara swiss. Karena menolak memafaatkan teknologi digital, mereka kehilangan kemampuan monopolinya. Saat ini, daya monopoli pembuatan jam tangan dikuasai perusahaan-perusahaan jam di jepang, yang mau memanfaatkan teknologi digital. Keseimbangan dalam jangka panjang akan menjadi masalah bila dalam jangka pendek perusahaan mengalami kerugiaan. Diagram 9.5.a menunjukkan perusahaan monopolis yang mengalami kerugian dalam jangka pendek. Namun karena biaya rata-rata variabel masih lebih besar dari harga (AVC>P) untuk smentara perusahaan masih dapat beroperasi. Bila ingin mempertahankan eksistensinya dalam jangka panjang, perusahaan harus berupaya mencapai laba. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah melakukan efesiensi agar biaya produksi menjadi lebih murah. Dalam diagram 9.5.b ditunjukka dengan menurunnya kyrva AC(AC – AC). Karena sekarang biaya rata-rata lebih kecil daru pada harga (AC AC ,yang artinya perusahaan memperileh laba (Diagram 9.5.c) tentu saja cara yang terbaik adalah melakukan peningkatan efesiensi sekaligus meningkatkan permintaan. Referensi : Prathama Raaahardja, Mandala Manurung [2]

                           2.2.5.   Daya Monopoli (Monopoly Power)
Daya Monopoli (Monopoly Power) yaitu kemampuan perusahaan melakukan eksploitasi pasar dalam rangka mencapai laba maksimum hanyalah sebatas kemampuan mengatur jumlah output dan harga. Daya monopoli dikatakan makin besar bila keputusan harga dan output perusahaan makin sulit dilawan ooleh pasar. Lerner mengukur kemampuan perusahaan berlandaskan permintaan yang dihadapi perusahaan dengan menghitung angka indeks, yang dikenal sebagai indeks Lerner (Lerner Index).
L= (P-MC)
P

Ket:     L          = indeks Lerner
            P          = harga output
            MC      = biaya marjinal

Dari persamaan diatas daya monopoli makin besar bila nilai Indeks Lerner makin besar. Indeks Lerner mempunyai nilai antar 0 dan 1. Dalam pasar persaingan sempurna daya monopoli adalah nol, karena dalam keseimbangan harga sama dengan biaya marjinal.  Besarnya nilai inddeks lerner dipengaruhi oleh beberapa faktor:
a.       Elastisitas Harga Permintaan (Elastisitas Harga)

Dalamm pasar persaingan sempurna, elastisitas harga permintaan tak tak terhingga. Laba maksimum tercapai bila P=MC. Karena itu dalam pasar persaingan sempurna nilai L sama dengan nol. Perusahaan tidak memiliki daya monopoli (pricee taker). Makin inelastis permintaan, makin besar nilai L atau daya monopoli.

b.      Jumlah Perusahaan Dalam Pasar
Makin sedikit jumlah perusahaan, daya monopoli makin besar. Dalam pasar persaingan sempurna, jumlah perusahaan banyak sekali, sehingga konsumen leluasa memilih produsen. Permintaan elastis sempurna, sehingga nilai L sama dengan nol.
c.       Interaksi Antar Perusahaan

Makin solid interaksi antarperusahaan, makin besar daya monopoli. Dalam pasar persaingan sempurna, karena jumlah perusahaan sangat banyak, amat sulit melakukan konsolidasi untuk mencapai kekuatan monopoli. Makinn sedikit jumlah perusahaan, makin mudah melakukan konsolidasi (interaksi). Karena itu struktur pasar yang berpotensi besar untuk memiliki daya monopoli besar adalah oligopoli.
Indeks lerner bukanlah indeks laba (profit index).  Sebab laba berkaitan dengan biaya rata-rata. Walaupun memiliki daya monopoli yang besar (nilai L besar), tanpa efisiensi perusahaan akan mengalami kerugian.

                           2.2.6.   Monopoli Alamiah (Natural Monopoly)
Perusahaan yang memiliki daya monopoli alamiah (natural monopoly) disebut monopolis alamiah. Perusahaan ini mempunyai kurva biaya rata-rata (AC) jangka panjang yang menurun (negative slope). Makin besar output yang dihasilkan makin rendah biaya rata-rata. Ini dimungkinkan karena perusahaan memiliki kurva biaya marjinal (MC) yang juga menurun dan berada di bawah kurva AC. Perusahaan memiliki tingkat efisiensi yang makin tinggi, bila skala produksi diperbesar. Perusahaan seperti ini mampu melakukan eksploitasi pasar, dilihat dari makin besarnya selisih harga jual debgab biaya marjinal. Diangram dibawah ini menunjukkan hal tersebut, dimna titik perpotongan kurva MC dengan MR (titik A) jauh di bawah harga  jual (titik B).
Perusahaan hanya akan mampu memiliki daya seperti dia tas bila dalam jangka panjang mampu meningkatkan efisiensi melalui pengembangan teknologi, manajemen, dan sumber daya manusia. Perusahaan yang memiliki kekuatan monopoli alamiah, tidak selalu diawali kekuatan teknologi. Sebaliknya perusahaan pada awalnya memiliki kemampuan teknis, dapat kehilangan kemampuan monopoli dan tidak mampu menjadi monopolis alamiah (kasus industri jam tangan swiss)
Di Indonesia, salah satu perusahan yang sangat kuat dalam bidang industri pengolahan makanan adalah Group Salim. Misalnya saja, perusahaan ini menguasai lebih dari 90 % produk makanan berbahan baku terigu (mie instant). Kemampuan monopoli natural Salim Group pada awalnya bukan kemampuan teknis. Sebab pemilik perusahaan (Sudono Salim) memulai usahanya sebagai pedagang, yang sekitar 30 tahun lalu memperoleh hak monopoli perusahaan pengolah tepung terigu, Bogasari). Hak monopoli tersebut adalah monopoli legalistis (legal monopoly). Laba yang diperoleh dari hak monopoli tersebut digunakan untuk membeli teknologi modern, membayar manajer dan SDM yang tangguh, sehingga akhirnya perusahaan memilih kemampuan monopoli alamiah.

                           2.2.7.   Pengaturan Perusahaan Monopoli (Monopoly Regulation) danMasalahnya
a. Pengaturan harga (Price Regulaton)
Kebijakan menetapkan tingakharga maksimum(ceiling price)  bagi perusahaan monopoli. Diagram 9.9  keseimbangan perusahaan monopolis tercapai pada saat jumlahoutput Qmdan hargajualPm per unit.
Diagram 9.10 Dilemapengaturanmonopoli semakin terasa jika perusahaan adalah monopolis alamiah. Sampaibatas Qm, harga ditetapkan sebesar Pm, perusahaan menikmati laba supernormal seluas daerahsegi empatPpPmEF.

                           2.2.8.   AspekPositifMonopoli (Monopoly Benefits)
Monopoli memang dapat menimbulkan kerugian (biaya sosial), namun tidaklah selalu merugikan. Setidak-tidaknya ada beberapa manfaat monopoli yang perlu di pertimbangkan

a.      Monopoli, Efisiensi, Dan Pertumbuhan Ekonomi
Dibandingkan dengan perusahaan yang bergerak dalam pasar persaingan sempurna, perusahaan monopolis mempunyai kelebihan, yaitu mampu mengakumulasi laba super normal dalam jangka panjang. Kemampuan ini sangat dibutuhkan agar mampu membiayai riset dan pengembangan dalam rangka mendapatkan teknologi baru atau menyempurnakan teknologi yang sudah ada, guna meningkatkan efisiensi. Dengan peningkatkan efisiensi, dari sejumlaah faktor produksi yang sama dihasilkan output yang lebih besar. Dengan kata lain, jika monopoli dikelola dengan baik akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Menurut Joseph Schumpeter: “Justru industri-industri yang bersifat monopolistislah yang ternyata menunjukkan suatu dinamika untuk berkembang lebih besar.

b.      Monopoli dan Efisiensi Pengadaan Barang Publik
Tidak semua barang dapat disediakan secara efisien lewat pasar. Barang itu umumnya dikenal sebagai barang publik (public goods). Harus diakui juga bahwa barang public dapat menimbulka eksternalitas menguntungkan yang memacu kegiatan ekonomi terutama investasi. Adanya investasi memungkinkan pertumbuhan ekonomi. Sayangnya pengadaan barang public hanya efisien dalam skala sangat besar. Contohnya, pengadaan jalan raya, pelabuhan laut, transportasi, telekomunikasi dan air minum. Karena efisien jika dilakukan dalam skala besar, perusahaan harus mendapatkan hak monopli (legal monopoly). Dalam jangka panjang diharapkan mampu menjadi monopolis alamiah yang memproduksi barang publik dengan harga murah.

c.       Monopoli dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat
Perusahaan monopolis jika dibiarkan memang dapat merugikan karena mem-produksi barang lebih sedikit dan menjual lebih mahal. Namun dalam pembahasan tentang diskriminasi harga maupun kebijakan pengaturan harga dua tingkat (two tier pricing), monopoli dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kebijakan diskriminasi harga memungkinkan masyrakat kelas bawah yang menganggap rekreasi merupakan barang mewah, menikmati rekreasi pada saat-saat tertentu dengan harga lebih murah. Kebijakan harga dua tingkat memungkinkan dilakukannya peningkatan output melalui subsidi silang.

Yang menarik adalah dengan menggunakan kedua kebijakan tersebut diatas, peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat dilakukan tanpa merugikan perusahaan. Seab perusahaan masih dapat menikmati laba super normal.

Subscribe to receive free email updates: