Ilmu Budaya Dasar; Manusia dan Pandangan Hidup



BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang
Pandangan hidup merupakan suatu dasar atau landasan untuk membimbing kehidupan jasmani dan rohani. Pandangan hidup ini sangat bermanfaat bagi kehidupan individu, masyarakat, atau negara. Semua perbuatan tingkah laku dan aturan serta undang-undang harus merupakan pancaran dari pandangan hidup yang telah dirumuskan.
Pandangan hidup sering disebut filsafat hidup. Filsafat berarti cinta akan kebenaran, sedangkan kebenaran dapat dicapai oleh siapa saja. Hal inilah yang mengakibatkan pandangan hidup itu perlu dimiliki oleh semua orang dan semua golongan.
Muslim sejati hendaknya memiliki pandangan hidup yang Islami, agar apa yang ia lakukan senantiasa berlandaskan pada Al-Qur’an dan Al-Hadits. Oleh karena itu penulis tertarik untuk menyusun makalah yang berjudul, “Manusia Dan Pandangan Hidup Yang Islami”, agar dapat membantu kita semua memiliki pandangan hidup yang islami, yang berdasarkan pada Al-Qur’an dan Hadits.

B.        Rumusan Masalah
1.      Mengapa perlu adanya pandangan hidup manusia?
2.      Apa saja sumber pandangan hidup manusia?
3.      Apa saja aliran keyakinan atau kepercayaan yang mendasari pandangan hidup manusia?

C.       Tujuan
1.      Mengetahui dan Mejelaskan pandangan hidup manusia
2.      Mendeskripsikan sumber-sumber pandangan hidup manusia
3.      Menjabarkan alira-aliran keyakinan atau kepercayaan yang mendasari pandangan hidup manusia


BAB II
PEMBAHASAN

A.       PENGERTIAN PANDANGAN HIDUP DAN IDEOLOGI

1.         Pandangan Hidup
Pandangan hidup adalah nilai-nilai yang dianut oleh sutau masyarakat, yang dipilih secara selektif oleh para individu dan golongan di dalam masyarakat (Koentjaraningrat, 1980). Pandangan hidup terdiri atas cita-cita, kebajikan, dan sikap hidup. Cita-cita, kebajikan, dan sikap hidup itu tak dapat dipisahkan dengan kehidupan. Dalam kehidupannya manusia tidak dapat melepaskan diri dari cita-cita, kebajikan, dan sikap hidup itu (Suyadi, M.P., 1985).
Pandangan hidup merupakan bagian dari hidup manusia. Tidak ada seorang pun yang hidup tanpa pandangan hidup meskipun tingkatannya berbeda-beda. Pandangan hidup itu mencerminkan citra diri seseorang karena pandangan hidup ini mencerminkan cita-cita atau aspirasinya (Manuel Kaisiepo, 1982). Apa yang dikatakan oleh seseorang adalah pandangan hidup karena dipengaruhi oleh pola berpikir tertentu. Tetapi, terkadang sulit dikatakan suatu itu pandangan hdiup, sebab dapat pula hanya suatu idelisasi belaka yang mengikuti kebiasaan berpikir yang sedang berlangsung di dalam masyarakat.[1]
Biasanya orang akan selalu ingat dan taat kepada Sang Pencipta bila sedang dirundung kesusahan. Namun, bila sedang dalam keadaan senang, bahagia, serta kecukupan, mereka lupa akan pandangan hidup yang diikutinya, berkurang rasa pengabdiannya kepada Sang Pencipta. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor:
1)      Kurangnya penghayatan pandangan hdiup yang diyakini
2)      Kurangnya keyakinan pandangan hidupnya
3)      Kurang memahami nilai dan tuntutan yang terkandung dalam pandangan hidupnya.
4)      Kurang mampu mengatasi keadaan sehingga lupa pada tuntutan hidup yang ada dalam pandangan hidupnya.
5)      Atau sengaja melupakannya demi kebutuhan diri sendiri. (Habib Mustopo, 1986)
Manuel Kaisiepo (1982) dan Abdurrahman Wahid (1985) berpendapat bahwa pandangan hidup bersifat elastis. Maksudnya bergantung pada situasi dan kondisi serta tidak selamanya bersifat positif.[2] Bahkan pandangan hidup dapat terjadi tidak dengan kesadaran atau “kesadaran yang dinyatakan,” tetapi “kesadaran yang tak dinyatakan”, sebagai akibat kepengapan kondisi.[3]

2.         Sumber Pandangan Hidup
Ada bermacam-macam sumber pandangan hidup. Ini dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok, yaitu:
1)      Pandangan hidup yang bersumber dari agama (pandangan hidup muslim). Kebenarannya mutlak. Contoh, pandangan muslim bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul (sikap, perkataan, dan perbuatan Nabi Muhammad SAW). Dengan demikian maka, pandangan hidup muslim adalah kesetiaannya kepada Islam tentang berbagai masalah asasi hidup manusia, yang merupakan jawaban muslim yang berorientasi terhadap Islam mengenai berbagai persoalan pokok hidup manusia yang tersimpul dalam Al-Qur’an dan Hadits.[4]
Pandangan hidup muslim terdiri atas:
a.          Pedoman hidup ialah Al-Qur’an (QS Al-Baqarah : 2) dan As-Sunnah
b.         Dasar hidupnya ialah Islam
c.          Tujuan hidupnya
1)         Berdasarkan arahnya ialah (1) tujuan hidup vertikal mendapatkan keridhaan Allah (QS Al-Baqarah : 207), (2) tujuan hidup horizontal ialah kebahagiaan dunia dan akhirat (QS Al-Baqarah : 201) serta menjadi rahmat bagi segenap alam (QS Al-Anbiya : 107).
Ditinjau dari segi lingkungan:
a)         Tujuan sebagai individu (QS Al-Baqarah : 208)
b)         Tujuan sebagai anggota keluarga (QS Ar-Rum : 21)
c)         Tujuan sebagai warga lingkungan (QS Saba’ : 15)
d)        Tujuan sebagai warga negara atau bangsa (QS Saba’ : 15)
e)         Tujuan sebagai warga dunia (QS Al-Qasas : 77)
f)          Tujuan sebagai warga alam semesta (universum) (QS Al-Baqarah : 107)
d.         Tugas hidup muslim adalah ibadah (QS Az-Zariyat : 56), termasuk ibadah dalam arti khusus dan arti luas.
e.          Fungsi hidup muslim adalah (1) sebagai khalifah dimuka bumi, yaitu menerjemahkan segala sifat-Nya ke dalam perikehidupan dan penghidupan sehari-hari dalam batas-batas kemanusiaan (kemampuan), melaksanakan segala yang diridhai Allah diatas persada buana ciptaan Allah (QS Al-Baqarah : 30). (2) sebagai fungsi risalah atau penerus risalah (ajaran) Nabi, pengemban tugas dakwah kepada segenap umat manusia (QS Ali-Imran : 104).
f.          Alat hidup muslim adalah harta benda dan segala sesuatu yang dimilikinya, jiwa raga dan sebagainya.
g.         Teladan hidupnya adalah Nabi Muhammad, utusan Allah (QS Al-Qalam:4). Hadits: “Sesungguhnya aku dibangkitkan untuk menyempurnakan akhlak yang utama, budi yang tinggi.”
h.         Kawan hidup muslim dalam arti khusus adalah suami atau istri yang taat kepada Allah (QS Ar-Rum : 21, QS Al-A’raf : 189, QS At-Taubah : 71, QS An-Nisa : 34)
i.           Lawan hidup muslim adalah setan (QS An-Nas : 4-6)
Pandangan hidup muslim, ruang lingkupnya meliputi seluruh bidang hidup manusia. Ia hendak menuang bukan saja kehidupan perseorangan, melainkan juga susunan masyarakat manusia kedalam pola-pola yang sehat sehingga ajaran Islam dapat dibangun dengan sebenar-benarnya di permukaan bumi (Maududi, 1979).
2)      Pandangan hidup yang bersumber dari ideologi merupakan abstraksi dari nilai-nilai budaya suatu negara atau bangsa. Misalnya ideologi Pancasila dapat merupakan sumber pandangan hidup, sebagimana halnya P4.
3)      Pandangan hidup yang bersumber dari hasil perenungan seseorang sehingga dapat merupakan ajaran atau etika untuk hidup, misalnya aliran-aliran kepercayaan.

3.         Ideologi
Ideologi menurut William (1959) mengandung dua hal, yaitu:
1)      Unsur-unsur filsafat yang digunakan, atau usulan-usulan yang digunakan sebagai dasar untuk kegiatan.
2)      Pembenaran intelektual untuk seperangkat norma-norma, seperti kapitalisme dan sebagainya.
Ideologi merupakan komponen dasar terakhir dari sistem-sistem sosio-budaya. Pengertian ini menyangkut sistem-sistem dasar kepercayaan dan petunjuk hidup sehari-hari. Suatu ideologi bagi masyarakat tersusun dari tiga unsur, yaitu (1) pandangan hidup, (2) nilai-nilai, (3) norma-norma (Lenski), 1974).
Pendapat ini menunjukkan bahwa pandangan hidup itu merupakan bagian dari ideologi kebudayaan dapat membuat kemungkinan-kemungkinan menjawab pertanyaan mengapa (why) tentang sesuatu dari kehidupan. Untuk menjawabnya, masyarakat mengekspresikan hasil kebudayaannya untuk mencapai beberapa pengertian. Dalam kenyataannya ternyata ilmu pengetahuan mampu menjawab pertanyaan mengapa (why)-nya sesuatu, tetapi sekaligus mengundang pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.
Pada abad ke-18 dan awal abad ke-20, banyak orang berpikir bahwa ilmu pengetahuan dapat menggantikan semua kedudukan ideologi (termasuk pandangan hidup) dan merupakan pelengkap terakhir dari keterbatasan pandangan hidup. Sudah mafhum bahwa sains modern telah memikirkan segala sesuatu, bahkan mendidik pribadi untuk bersikap mengambil sejumlah kemudahan dalam merumuskan pandangan hidupnya. Tetapi, lambat laun sains tidak dapat menghasilkan kreasinya, dalam kenyataan ia menghindar dari soal-soal alam yang mendasar tentang realitas.
Seperti diuraikan di muka, di dalam ideologi tidak hanya ada norma dan pandangan hidup, tetapi ada nilai-nilai. Hanya yang penting ialah bahwa nilai-nilai itu cenderung mengikat pandangan hidup. Pandangan hidup merupakan pelengkap nilai-nilai dalam membuat pembenaran atau rasionalisasi untuk nilai-nilai, seperti untuk melakukan suatu kegiatan, pandangan hidup memberi semangat kepada nilai-nilai. Demikian pula norma-norma digunakan untuk hampir seluruh aturan khusus. Bedanya dengan nilai, kedudukan nilai selalu dalam pengertian umum. Norma berlaku dalam menentukan perilaku perintah atau larangan, untuk suatu kewajiban dari peranan spesifik dalam situasi yang spesifik pula sehingga norma menjiwai pandangan hidup dalam hal-hal yang spesifik.
Dari uraian diatas, tampak pada kita bahwa ideologi lebih luas daripada pandangan hidup. Ideologi biasanya tidak dipakai dalam hubungan individu. Ideologi dipakai dalam konteks yang lebih luas, seperti ideologi negara, ideologi masyarakat, atau ideologi kelompok tertentu. Ideologi sebagai pedoman hidup merupakan suatu cita-cita yang ingin dicapai oleh banyak individu dalam masyarakat. Tetapi, lahirnya suatu ideologi dapat disusun secara sadar oleh tokoh-tokoh, pemikir suatu masyarakat atau golongan tertentu dari masyarakat, yang diperuntukkan bagi masyarakat.[5]


B.        CITA-CITA

Cita-Cita adalah keinginan yang ada dalam hati seseorang. Cita-cita itu mungkin tercapai atau mungkin tidak. Dalam hal cita-cita ini Allah bertanya dalam firman-Nya:
“Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya?” (QS An-Najm : 24)
Dalam ungkapan manusia punya cita-cita, tetapi Allah yang menentukan. Agar cita-cita tersebut dikabulkan oleh Allah, ada beberapa faktor yang harus dipenuhi: berbakti dan berdoa kepada Allah serta berjuang keras. Syarat-syarat untuk perjuangan harus dipenuhi. Untuk itu semua diperlukan perjuangan, kerja keras, disiplin belajar tekun, ulet, sabar, penuh dedikasi dan manusiawi serta bertakwa kepada Allah. Sebab kegiatan apapun yang kita lakukan, ketentuan di tangan Allah. Namun demikian Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang atau suatu kaum apabila kaum itu tidak mengubah nasibnya sendiri. Firman Allah SWT. dalam Al-Quran:
“Allah tidak akan mengubah nasib seseorang atau suatukaum, apabila kaum itu tidak mengubahnya sendiri.” (QS Al-Anfal : 53)
Tetapi bila cita-cita belum tercapai akibat belum terpenuhi persyaratannya maka cita-cita tersebut baru disebut harapan. Namun demikian, cita-cita yang bertaruh harapan masih merupakan unsur pandangan hidup, karena masih member kemungkinan ada keberhasilan dan ini mendorong manusia untuk tetap berusaha mengatasi kegagalan yang dialami.

C.       KEBAJIKAN

1.         Makna Kebajikan
Kebajikan dapat diartikan kebaikan, sesuatu yang mendatangkan kebaikan, keselamatan, keuntungan, kemakmuran, dan kebahagiaan. Manusia berbuat kebaikan, karena menurut kodratnya, manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, suci. Dengan kesucian jiwanya itu mendorong hati nuraninya untuk berbuat kebaikan. Firman Allah SWT:
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebaijkan, memberi kaum kerabat, dan Allah melarang dia berbuat keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS An Nahl : 90)
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS An-Nahl : 128)
2.         Sumber Kebajikan
Kebajikan berasal dari dua sumber, yaitu manusia sebagai khalifah Allah di bumi ini, dan Allah Yang Maha Kuasa, yang menciptakan manusia beserta alam semesta dan isinya.
Kebajikan Tuhan adalah berupa karunia-Nya. Bagi orang yang tidak beriman kepada Tuhan mereka tidak percaya adanya kebajikan yang berasal dari karunia-Nya. Tetapi bagi orang yang beriman, ia percaya bahwa kebajikan manusia adalah karena karunia-Nya juga. Manusia sekedar perantara saja.
Kebajikan itu dapat berupa tingkah laku atau perbuatan, benda-benda yang berwujud atau benda-benda yang tak berwujud.
Sabda Rasulullah SAW:
“Barangsiapa yng dikehendaki baik oleh Allah, maka ia dipintarkan dalam hal keagamaan dan diilhami oleh-Nya kepandaian dalam hal itu.” (HR Bukhari, Muslim dan Tabrani)
Firman Allah SWT:
“Allah mengangkat orang-orang yang beriman dari golonganmu semua dan juga orang-orang yang dikaruniai ilmu pengetahuan hingga beberapa derajat.” (QS Mujadalah : 11)
Dalam menjelaskan kebajikan ilmu bahwa ilmu pengetahuan itu lebih utama daripada ibadah dan penyaksian, Rasulullah SAW bersabda:
“Keutamaan seorang alim diatas seorang ‘abid (orang yang beribadah) sebagaimana keutamaanku di atas serendah dari golongan sahabat-sahabatku.” (HR Tirmidzi)
Sehubungan dengan kebajikan dan keutamaan ilmu pengetahuan, salah-satu wasiat yang disampaikan oleh Luqman kepada anaknya ialah:
“Hai anakku, pergaulilah para alim ulama dan rapatilah mereka itu dengan kedua lututmu, sebab sesungguhnya Allah SWT menghidupkan hati dengan cahaya hikmat sebagaimana Dia menghidupkan bumi dengan hujan lebat dari langit.”

D.       KEYAKINAN ATAU KEPERCAYAAN
Keyakinan atau kepercayaan yang menjadi dasar pandangan hidup berasal dari akal atau kekuatan Tuhan. Untuk mengetahui hal ini marilah kita ikuti uraian Prof Dr. Harun Nasution. Menurut beliau ada tiga aliran filsafat, yaitu aliran naturalisme, aliran intelektualisme, dan aliran gabungan.

1.         Aliran Naturalisme
Hidup manusia dihubungkan dengan kekuatan gaib yang merupakan kekuatan tertinggi. Kekuatan gaib itu dari natur, dan natur itu dari Tuhan, Tetapi bagi yang tidak percaya Tuhan, natur itulah yang tertinggi. Tuhan menciptakan alam semesta lengkap dengan hukum-hukumnya, secara mutlak dikuasai Tuhan.
Aliran naturalisme berintikan spekulasi, mungkin ada Tuhan dan mungkin tidak ada Tuhan. Lalu mana yang benar? Yang benar adalah keyakinan. Jika kita yakin Tuhan itu ada, maka kita katakan Tuhan itu ada. Bagi yang tidak yakin dikatakan Tuhan tidak ada, yang ada hanyalah natur.
Ajaran agama itu ada dua macam:
1)      Ajaran agama yang dogmatis, yang disampaikan oleh Tuhan melalui Nabi-Nabi. Ajaran ini bersifat mutlak, terdapat dalam Al-Quran dan Hadits. Sifatnya tetap, tidak berubah-ubah.
2)      Ajaran agama dari pemuka-pemuka agama, yaitu sebagai hasil pemikiran manusia, sifatnya relatif (terbatas). Ajaran agama dari pemuka-pemuka agama termasuk dalam kebudayaan, terdapat dalam buku-buku agama yang ditulis pemuka-pemuka agama. Sifatnya dapat berubah-ubah sesuai dengan perkembangan agama.
Apabila aliran naturalisme ini dihubungkan dengan pandangan hidup maka keyakinan manusia itu bermula dari Tuhan. Jadi, pandangan hidupnya dilandasi oleh ajaran-ajaran agama. Pandangan hidup yang dilandasi oleh keyakinan bahwa Tuhanlah kekuasaan tertinggi, yang menentukan segala-galanya, disebut pandangan hidup keagamaan (religius).
Sebaliknya, apabila manusia tidak mengakui adanya Tuhan, natur adalah kekuatan tertinggi, maka keyakinannya itu bermula dari kekuatan natur. Pandangan hidupnya dilandasi oleh kekuatan natur (ateistik). Ini disebut pandangan hidup komunisme.

2.         Aliran Intelektualisme
Dasar aliran ini ialah akal atau logika. Manusia mengutamakan akal. Dengan akal manusia berpikir. Mana yang benar menurut akal itulah yang baik, walaupun mungkin bertentangan dengan hati nurani.
Akal berasal dari bahasa Arab, artinya kalbu, yang berpusat di hati. Sehingga timbul istilah “hati nurani”, artinya “daya rasa”. Di barat hati nurani ini menipis, justru yang menonjol ialah akal yaitu logika berpikir. Karena itu aliran ini banyak dianut oleh kalangan barat.
Apabila aliran ini dihubungkan dengan pandangan hidup maka keyakinan manusia itu bermula dari akal. Jadi pandangan hidup itu dilandasi oleh keyakinan kebenaran yang diterima akal. Benar menurut akal itulah yang baik. Manusia yakin bahwa kebajikan hanya dapat diperoleh dengan akal (ilmu dan teknologi). Pandangan hidup ini disebut liberalisme.

3.         Aliran Gabungan
Dasar aliran ini adalah kekuatan gaib dan juga akal. Kekuatan gaib artinya kekuatan yang berasal dari Tuhan, percaya adanya Tuhan sebagai dasar keyakinan. Sedangkan akal adalah dasar kebudayaan, yang menentukan benar tidaknya sesuatu. Segala sesuatu dinilai dengan akal, baik sebagai logika berpikir maupun sebagai daya rasa (hati nurani). Jadi apa yang benar menurut logika berpikir, juga dapat diterima oleh hati nurani.
Apabila aliran ini dihubungkan dengan pandangan hidup maka akan timbul dua kemungkinan pandangan hidup. Apabila keyakinan lebih berat didasarkan pada logika berpikir, sedangkan hati nurani dinomorduakan, kekuatan gaib dari Tuhan diakui adanya tetap tidak menentukan.  Dan logika berpikir tidak ditekankan pada logika berpikir individu, melakinkan logika berpikir kolektif. Pandangan hidup ini adalah disebut sosialisme.
Apabila dasar keyakinan itu kekuatan gaib dari Tuhan dan akal, kedua-keduanya mendasari keyakinan secara berimbang, akal dalam arti baik sebagai logika berpikir maupun sebagai hati nurani, logika berpikir secara individual maupun secara kolektif. Pandangan hidup ini disebut sosialisme religius. Kebajikan yang dikehendaki adalah kebajikan yang benar menurut logika berpikir dan dapat diterima oleh hati nurani, semuanya itu berkat karunia Tuhan.
Pandangan hidup sosilaisme menekankan pada logika berpikir kolektif, sedangkan pandangan hidup sosialisme religius menekankan pada logika berpikir kolektif dan individual. Pandangan hidup sosialisme mengutamakan logika berpikir daripada hati nurani, sedangkan sosialisme religius mengutamakan kedua-duanya, logika berpikir dan hati nurani. Pandangan hidup sosialisme tidak begitu menghiraukan kekuasaan Tuhan, sebaliknya bagi sosialisme religius kekuasaan Tuhan justru menentukan.[6]


BAB III
PENUTUP

A.       Kesimpulan
Pandangan hidup adalah nilai-nilai yang dianut oleh sutau masyarakat, yang dipilih secara selektif oleh para individu dan golongan di dalam masyarakat yang terdiri atas cita-cita, kebajikan, dan sikap hidup.
Terdapat 3 sumber pandangan hidup:
1.      Pandangan hidup yang bersumber dari agama (pandangan hidup muslim) yang kebenarannya bersifat mutlak (absolut).
2.      Pandangan hidup yang bersumber dari ideologi yang merupakan abstraksi dari nilai-nilai budaya suatu negara atau bangsa.
3.      Pandangan hidup yang bersumber dari hasil perenungan seseorang sehingga dapat merupakan ajaran atau etika untuk hidup.
Manusia yang memiliki pandangan hidup yang baik dan benar (khususnya muslim), pasti memiliki cita-cita yang dengannya mereka akan sungguh-sungguh dalam memperjuangkan cita-cita tersebut sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan Hadits. Kemudian, pandangan hidup yang baik dan benar juga akan melahirkan kebajikan-kebajikan dalam diri manusia terhadap sesama dan lingkungannya (alam semesta).
Keyakinan atau kepercayaan yang menjadi dasar pandangan hidup berasal dari akal atau kekuatan Tuhan. Terdapat tiga aliran besar keyakinan atau kepercayaan yang mendasari pandangan hidup manusia. Diantaranya ialah, aliran naturalisme, aliran intelektualisme, dan aliran gabungan. Aliran naturalisme mendasari pemikirannya berdasarkan hal yang gaib, sedangkan aliran intelektualisme berpendapat bahwa akal adalah sumber utama dari kebenaran. Sementara aliran gabungan ialah gabungan dari kedua aliran sebelumnya.


DAFTAR PUSTAKA

Soelaeman, M. Munandar, Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar, Bandung: Refika Aditama, 2001
Mawardi, dan Hidayati, Nur, Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Sosial Dasar, Ilmu Budaya Dasar, Bandung: CV Pustaka Setia, 2000
Notowidagdo, Rohiman, Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Al-Quran Dan Hadits, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2000



[1] M. Munandar Soelaeman, Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar, (Bandung: Refika Aditama, 2001), h. 97.
[2] Mawardi dan Nur Hidayati, Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Sosial Dasar, Ilmu Budaya Dasar, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2000), h. 177-178.
[3] M. Munandar Soelaeman, loc.cit.
[4] Rohiman Notowidagdo, Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Al-Quran Dan Hadits, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2000), h. 152
[5] M. Munandar Soelaeman, op.cit., h. 98-99
[6] Rohiman Notowidagdo, op.cit., h. 160-163

Subscribe to receive free email updates: