Ilmu Budaya Dasar; Manusia dan Cinta Kasih



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Cinta kasih merupakan paduan dua kata yang mengandung arti psikologis yang dalam, yang sulit didefinisikan dengan rangkaian kata-kata. Mungkin cinta baru dapat dimengerti dan dirasakan bagi orang yang sudah atau sedang dirundung cinta. Cinta kasih merupakan anugerah Allah SWT. kepada ummat-Nya, manusia makhluk yang paling sempurna dan sebagai khalifah-Nya dimuka bumi tercinta ini.
Dunia kita sekarang terbelenggu dengan belenggu materialisme dan tergoncang oleh hawa nafsu individualisme. Hati manusia penuh dengan dendam, dengki, dan berbagai macam kebencian. Ia membutuhkan siraman cinta dan air kasih sayang untuk mengkompres luka, mencuci dengki, mendinginkan dendam, meredamkan fitnah, menekan kesewenang-wenangan, menghilangkan kebencian dan nafsu ananiyah.
Kiranya kemanusiaan hari ini, yang terus menghadapi pertarungan dan ditindih beban kehidupan materialistis dan penuh luka, sangat membutuhkan cinta Islami yang dapat mengantarkan kepada kedamaian, keamanan, keimanan serta persaudaraan yang suci.  Oleh karena itu, penulis sangat tertarik mengambil judul makalah “Manusia Dan Cinta Kasih Dalam Islam” guna membasuh kekeringan hati kita dari cinta kasih yang tak berlandaskan ke-Islaman dan menerangkan cinta kasih yang sesuai dengan tuntunan cahaya ke-Ilahian.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian dari cinta kasih?
2.      Apa saja macam-macam cinta kasih?
3.      Bagaimana Al-Qur’an memandang cinta kasih?

C.    Tujuan
1.      Mendeskripsikan pengertian dari cinta kasih
2.      Menjelaskan macam-macam cinta kasih
3.      Menjelaskan pandangan Al-Qur’an tentang cinta kasih



BAB II
PEMBAHASAN

A.       Pengertian Cinta Kasih
Cinta kasih dapat dirumuskan secara sederhana sebagai perasaan kasih sayang, kemesraan, belas kasihan, dan pengabdian yang diungkapkan dengan tingkah laku yang bertanggung jawab. Sehingga menciptakan keserasian, keseimbangan, dan kedamaian antara sesama manusia, antara manusia dengan lingkungan, dan antara manusia dengan Tuhan.[1]
Cinta memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia, sebab ia merupakan landasan kehidupan perkawinan, pembentukan keluarga dan pemeliharaan anak-anak. Ia adalah landasan hubungan erat di masyarakat dan pembentukan hubungan-hubungan manusiawi yang akrab. Ia adalah pengikat yang kokoh dalam hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Dan membuatnya ikhlas berkorban, ikhlas dalam menyembah-Nya., mengikuti jalan-Nya, dan berpegang teguh pada syariat-Nya.
Sebagai manifestasi perasaan cinta, manusia mempunyai banyak lambang tentang cinta. Lambangnya dapat berupa bau bunga, warna, cium tangan, cium kening, dan sebagainya. Seperti dikatakan oleh Filsuf Islam al Kindi: “Jika bau bunga sedap malam dicampur dengan bau mawar, akan lahir bau baru yang bisa membangkitkan perasaan cinta dan bangga.
Pemahaman orang modern bahwa cinta adalah kebebasan tanpa batas dan ikatan serta pelepasan nafsu hewani yang menjerumuskan mereka kedalam hidup yang penuh dengan ketidaktenangan, harus segera dilepaskan. Dan tiada yang dapat melepaskan dan membebaskan mereka kecuali dengan cahaya cinta yang bersumber dari-Nya. Dia-lah Zat pemberi cahaya cinta berupa keselamatan dan kedamaian. Sesungguhnya dalam kitab Allah banyak membicarakan masalah cinta, menunjukkan dan membimbing ke arahnya.[2]

B.        Macam-Macam Cinta Kasih

1.      Cinta Kepada Allah
Merupakan puncak cinta manusia yang paling jernih dan yang dapat memberikan tingkat perasaan kasih sayang yang luhur, khususnya perasaan simpatik dan sosial. Cinta yang ikhlas seorang manusia kepada Allah akan membuat cinta menjadi kekuatan pendorong yang mengarahkannya dalam kehidupan dan menundukkan semua bentuk cinta yang lainnya.[3]  
Cinta ini akan membuatnya menjadi seorang yang cinta pada sesama manusia, hewan, semua makhluk Allah dan seluruh alam semesta. Sebab, dalam pandangannya semua wujud yang ada di sekelilingnya merupakan manifestasi dari Tuhannya yang membangkitkan kerinduan-kerinduan spiritualnya dan harapan kalbunya.
Firman Allah:
Katakanlah: jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Imran : 31).
Ibnul Qayyim, dalam kitabnya Madariyus Shalihin Juz 1 halaman 99, mengatakan: “Pokok ibadah adalah cinta kepada Allah, bahkan mengkhususkan cinta hanya kepada Allah, tidak mencintai yang lain, bersamaan mencintai-Nya. Ia mencintai sesuatu hanyalah karena Allah dan jalan Allah.”
Demikianlah jalan cinta, berawal dari perintah Ilahi, berakhir dengan ketaatan insani.

2.      Cinta Kepada Rasulullah
Cinta kepada Rasul menduduki peringkat kedua setelah cinta kepada Allah. Karena Rasul merupakan ideal yang sempurna bagi manusia baik dalam tingkah laku, moral, maupun berbagai sifat luhur lainnya. Sebagaimana dikemukakan Al-Qur’an:
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
(QS. Al-Qalam : 4)
Beliau kekasih Allah yang berjuang dengan segala daya dan kemampuan sehingga akidah yang suci murni ini dapat eksis di bumi. Iman dan agama Allah dapat berkembang di dunia manusia. Disamping itu dibimbingnya pula para makhluk menuju kepada al-Khalik.
Dari Anas Ra. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Tidak sempurna keimanan seseorang diantara kalian hingga ia lebih mencintai aku daripada kedua orang tuanya, anaknya, dan manusia semuanya.”
Beliau junjungan, kekasih, dan penolong kita. Rasul pembawa misi kemanusiaan, keselamatan, kedamaian, dan al-Islam. Dialah Sayyidina Muhammad bin Abdullah SAW yang diistimewakan oleh Allah untuk memberi syafaat kubro dan syafaat-syafaat lainnya, yang diberinya telaga al-Kautsar, yang senantiasa diberi rahmat oleh-Nya, dan didoakan oleh para malaikat agar memperoleh rahmat dan karunia-Nya.
Semoga Allah memberikan shalawat kepadamu, wahai junjungan kami, wahai kekasih Allah, wahai utusan Allah. Selama beliau menjadi petunjuk ke jalan Allah, dan menunjukkan ke jalan Allah, maka manusia wajib melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya. Firman Allah SWT:
“Apa yang dibawa Rasul kepadamu ambillah. Dan apa yang dilarangnya, tinggalkanlah.” (QS. Al-Hijr : 7)

3.      Cinta Orang Tua
Anak merupakan buah alami dari kuatnya kasih sayang suami istri. Status sebagai ayah dan ibu merupakan kedudukan mulia, penuh makna sebagai ekspresi bahwa Tuhan telah menumpahkan rahmat-Nya, sehingga keduanya saling dipenuhi rasa kasih sayang dan perasaan terikat satu sama lain secara langgeng.
Cinta orang tua kepada anak-anaknya tidak boleh sama sekali diselingi keraguan. Cinta semacam itu merupakan tanda ke-Tuhanan dan suatu rahmat yang besar bagi kemanusiaan. Allah berfirman:
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang.”  (QS. Ar-Rum : 21)
Sebagian mufassir beranggapan bahwa yang dimaksudkan dengan mawaddah (cinta) dan rahmat di dalam ayat ini ialah anak yang memperkuat hubungan suami istri serta menjamin hubungan tersebut menjadi lebih aman dan damai.
Cinta orang tua kepada anaknya adalah cahaya yang diberikan Tuhan kepada mereka. Nabi SAW menjelaskan kepada para sahabat sambil menunjuk kepada seorang wanita:
“Dapatkah kau bayangkan bahwa wanita ini kelak melemparkan anaknya ke dalam api.” Mereka menjawab: “Tidak” Nabi bersabda: “Kasih sayang Tuhan kepada hamba-Nya lebih kuat daripada kasih sayang  wanita ini kepada anaknya.” (Hadits Syarif)
Cinta tersebut adalah cinta alami yang dibawa sejak lahir tanpa bisa dipadamkan oleh siapa pun. Atas dasar inilah maka bukannya Tuhan memerintahkan agar orang tua menjaga kepentingan anaknya, melainkan memerintahkan agar anak menjaga kepentingan orang tuanya. Firman Allah:
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.” (QS Lukman : 14)

4.      Cinta Diri Sendiri
Cinta ini erat kaitannya dengan dorongan menjaga diri. Manusia senang untuk tetap hidup, mengembangkan potensi dirinya dan mengaktualisasikan diri. Ia juga mencintai segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan, ketentraman, dan kebahagiaan pada dirinya. Al-Quran telah mengungkapkan cinta alamiah manusia terhadap dirinya sendiri, kecenderungannya untuk menuntut segala sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi dirinya, dan menghindar dari segala sesuatu yang membahayakan keselamatannya, melalui ucapan Nabi SAW, bahwa seandainya beliau mengetahui hal-hal gaib, tentu beliau akan memperbanyak hal-hal yang baik bagi dirinya dan menjuahkan diri dari segala keburukan. Firman Allah:
“…Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku akan memperbanyak kebaikan bagi diriku sendiri dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan…” (QS Al-A’raf : 188)
Diantara gejala yang menunjukkan kecintaan manusia terhadap dirinya sendiri, ialah kecintaannya terhadap harta.
“Dan sesungguhnya dia amat sangat cintanya kepada harta.” (QS Al-Adiyat : 8)
Gejala lainnya ialah permintaannya yang terus-menerus agar dikaruniai harta, kesehatan, dan berbagai kebaikan dan kenikmatan hidup lainnya. Dan apabila ia tertimpa bencana keburukan, atau kemiskinan, ia merasa putus asa, dan mengira bahwa ia tidak akan bisa memperoleh karunia lagi. Firman-Nya:
“Manusia tidak jemu-jemu memohon kebaikan, tetapi jika mereka ditimpa malapetaka, dia menjadi putus asa lagi putus harapan.” (QS Fushshilat : 49)
Contoh lain lagi ialah apabila ia tertimpa malapetaka atau kesulitan, ia pun berkeluh kesah atas apa yang menimpa dirinya dan apabila ia memperoleh banyak harta, ia begitu hati-hati sekali dalam memeliharanya dan segan menyedekahkan sebagian kepada orang lain yang membutuhkan. Firman-Nya:
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh-kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir.” (QS Al-Ma’arij : 21)
Namun cinta pada diri sendiri tidaklah terlalu berlebih-lebihan dan melewati batas. Sepatutnya cinta pada diri sendiri diimbangi dengan cinta pada sesama manusia lainnya.

5.      Cinta Kepada Sesama Manusia
Agar manusia dapat hidup dengan penuh keserasian dan keharmonisan dengan manusia lainnya, tidak boleh tidak ia harus membatasi cintanya pada dirinya sendiri dan egoismenya. Juga hendaknya ia menyeimbangkan cintanya itu dengan cinta dan kasih sayang kepada orang-orang lain.
Al-Quran dan Hadits telah menyeru kepada orang-orang yang beriman agar saling mencintai seperti cinta mereka kepada diri mereka sendiri. Dalam seruan itu sesungguhnya terkandung pengarahan kepada para mukmin agar tidak berlebihan dalam mencintai diri sendiridan emngarahkan cinta mereka kepada saudara mereka seiman. Firman- Nya:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin dalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertawakllah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS Al-Hujurat : 10)
Dari Anas r.a. bahwa Nabi SAW bersabda, "Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian, sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri"

6.      Cinta Seksual
Cinta erat kaitannya dengan dorongan seksual. Sebab dialah yang bekerja dalam melestarikan kasih sayang, keserasian dan kerja sama antara suami dan istri. Ia merupakan factor primer bagi keberlangsungan hidup keluarga. Firman Allah:
“Dan diantara tanda-tanda kekuasan-Nya, ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang, sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS Ar-Rum : 21)
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini: wanita-wanita…” (QS Ali Imran : 14)
Dorongan seksual melakukan suatu fungsi, yaitu melahirkan keturunan demi kelangsungan jenis. Lewat dorongan seksuallah terbetuk keluarga. Dari keluarga terbentuk masyarakat dan bangsa. Dengan demikian bumi pun menjadi ramai, bangsa-bangsa saling mengenal, kebudayaan berkembang, dan ilmu pengetahuan dan industri menjadi maju. Firman-Nya:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal…” (QS Al-Hujurat : 13)
Islam menyerukan pengendalian dan penguasaan cinta ini lewat pemenuhan dorongan tersebut dengan cara yang sah yaitu melalui pernikahan.[4]

7.      Cinta Kepada Lingkungan
Apabila seseorang menciptakan taman yang indah, memelihara taman pekarangan, tidak menebang kayu di hutan seenaknya, menanam tanah gundul dengan teratur, tidak berburu hewan secara semena-mena atau dikatakan bahwa orang itu menaruh cinta kasih atau menyayangi lingkungan hidupnya.[5]

C.       8 Jenis Cinta Dalam Al-Qur’an

1.      Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan “nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hamper tak bisa berfikir lain.
  1. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an ,kerabat disebut al arham, dzawi al arham , yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih saying secara fitri, yang berasal dari garba kasih saying ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih saying dalam satu ruang yang disebut rahim. Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu bersilaturrahim, atau silaturrahmi artinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat.
3.      Cinta mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (antamilukulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.
4.      Cinta syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.
5.      Cinta ra’fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma – norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina (Q/24:2).
6.      Cinta shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaikha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, waillatashrif `anni kaida hunnaash builaihin nawaakun min al jahilin (Q/12:33)
7.      Cinta syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari hadis yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahwa barang siapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; waas’alukaladzzata an nadzoriilawajhikawa as syauqailaliqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbinwa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalbila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wailtihabnaruha fi qalb al muhibbi
8.      Cinta kulfah. Yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positif meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullahnafsanillawus`aha (Q/2:286)[6]

D.       Ungkapan Cinta Kasih
Cinta kasih adalah ungkapan perasaan yang diwujudkan dengan tingkah laku atau perbuatan seperti dengan kata-kata, tulisan, gerak, atau media lainnya. Cinta kasih juga dapat diungkapkan dalam bentuk karya budaya, misalnya seni suara, seni sastra, seni drama, film, dan seni lukis.
Orang yang mempunyai perasaan cinta kasih, hidupnya penuh dengan gairah, inisiatif dan kreatif. Bagi seniman perilaku cinta kasih dituangkan dalam bentuk karya budaya sehingga dapat dinikmati pula oleh masyarakat. Dengan demikian, masyarakat dapat memetik nilai-nila kemanusiaan yang terungkap melalui karya budaya itu.[7]


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Cinta kasih dapat dirumuskan secara sederhana sebagai perasaan kasih sayang, kemesraan, belas kasihan, dan pengabdian yang diungkapkan dengan tingkah laku yang bertanggung jawab. Sehingga menciptakan keserasian, keseimbangan, dan kedamaian antara sesama manusia, antara manusia dengan lingkungan, dan antara manusia dengan Tuhan
Cinta kasih yang paling utama adalah cinta kepada Allah. Cinta yang ikhlas seorang manusia kepada Allah akan membuat cinta menjadi kekuatan pendorong yang mengarahkannya dalam kehidupan dan menundukkan semua bentuk cinta yang lainnya. Macam-macam cinta yang terpancar dari cinta kepada Allah diantaranya ialah, cinta kepada Rasulullah, cinta kepada anak-anak (cinta orang tua), cinta kepada diri sendiri yang positif, cinta seksual yang berlandaskan pernikahan secara sah, dan cinta terhadap lingkungan. Sebab, dalam pandangannya semua wujud yang ada di sekelilingnya merupakan manifestasi dari Tuhannya yang membangkitkan kerinduan-kerinduan spiritualnya dan harapan kalbunya.
Al-Qur’an sebagai pedoman manusia yang merupakan firman Allah SWT. pun menjelaskan berbagai jenis cinta. Diantaranya ialah, cinta mawaddah,cinta rahmah, cinta mail, cinta syaghaf, cinta ra’fah, cinta shobwah, cinta syauq, dan cinta kulfah.
Cinta kasih adalah anugerah dari Allah, maka sebagai ungkapan rasa syukur manusia, hendaknya cinta kasih tersebut dijadikan sebagai perasaan yang senantiasa ditujukan pada-Nya, sehingga kita dapat merasakan manis dan indahnya iman dan taqwa.


DAFTAR PUSTAKA
Mawardi, dan Hidayati, Nur, Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Budaya Dasar, Ilmu Sosial Dasar, Bandung: CV Pustaka Setia, 2000
Rohiman Notowidagdo, Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Al-Quran Dan Hadits, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2000
From.Erich, Seni Mencintai, Jakarta: Sinar Harapan, 1983
Syahirah, 8 Pengertian Cinta Menurut Al-Qur’an, diakses dari http://cintaitumilikallah.blogspot.com/2012/10/8-pengertian-cinta-menurut-al-quran.html


[1] Mawardi dan Nur Hidayati, Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Budaya Dasar, Ilmu Sosial Dasar, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2000), h. 167.
[2] Rohiman Notowidagdo, Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Al-Quran Dan Hadits, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2000), h. 70-72.
[3] From.Erich, Seni Mencintai, (Jakarta: Sinar Harapan, 1983) h. 54
[4] Rohiman Notowidagdo, op.cit., h. 72-82
[5] Mawardi dan Nur Hidayati, op.cit., h. 168.
[6] Syahirah, 8 Pengertian Cinta Menurut Al-Qur’an, diakses dari http://cintaitumilikallah.blogspot.com/2012/10/8-pengertian-cinta-menurut-al-quran.html pada tanggal 11 Desember 2014 pukul 16.30
[7] Mawardi dan Nur Hidayati, loc.cit.

Subscribe to receive free email updates: